Rumah hantu (Foto : Pixabay)


Ayat Pengusir Jin & Setan dari Abdul untuk Henci dan Robin

Setelah mendengar langsung cerita dari Henci mengenai penampakan Hantu Tambun di Gedung Sam Rat, Abdul—senior bijak dan penuh perhatian di organisasi Perisai—segera mengambil langkah spiritual. Ia tahu, persoalan semacam ini tak cukup hanya dengan logika dan keberanian biasa.

Ia mengirimkan enam doa dan ayat pengusir jin dan setan kepada Henci dan Robin via WhatsApp, disertai dengan pesan:

“Baca ini sebelum tidur dan setiap kali masuk tempat sunyi atau gedung kosong. Jangan tinggalkan bacaan ini, agar jiwa kalian tenang dan tak mudah diganggu makhluk halus.”

Berikut 6 doa dan ayat yang Abdul kirimkan:

1. Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255)

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ...

Ayat Kursi adalah perisai utama. Menurut hadis sahih, siapa yang membacanya setiap malam, akan dijaga oleh malaikat dan tidak akan didekati setan hingga pagi.

Waktu membaca:

Sebelum tidur

Saat merasa takut

Ketika memasuki tempat gelap atau sunyi

2. Surah Al-Falaq dan An-Nas

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ...
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ...

Dua surah ini dikenal sebagai Mu’awwidzatain (dua pelindung). Rasulullah SAW membacanya setiap malam untuk memohon perlindungan dari kejahatan makhluk, termasuk jin dan setan.

Waktu membaca:

Setiap pagi dan sore (3x), Sebelum tidur dan Saat merasa diganggu

3. Doa Masuk Tempat Angker atau Kosong

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.”

Waktu membaca:

Saat masuk kamar kosong, gedung tua, atau tempat sepi

Sebelum memasuki hutan, kebun, atau bangunan tak berpenghuni

4. QS. Al-Baqarah Ayat 1–5 dan Ayat 284–286

Surah Al-Baqarah dikenal sebagai pengusir jin dan sihir. Rumah yang dibacakan surah ini, terutama ayat terakhirnya, tidak akan dimasuki setan selama tiga hari.

 Waktu membaca:

Saat merasa rumah atau kamar terasa "berat"

Setelah mengalami mimpi buruk

Setiap malam sebelum tidur

5. Doa Perlindungan Diri dari Gangguan Jin

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Artinya:
“Ya Allah, lindungilah aku dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas, dan aku berlindung kepada-Mu dari diserang dari bawah.”

Waktu membaca:

Sebelum tidur

Sebelum keluar rumah

Sebelum bepergian jauh atau masuk tempat asing

6. QS. Al-Jin Ayat 6

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌۭ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍۢ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Artinya:
"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada jin, maka jin itu justru menambah mereka dosa dan kesesatan."

Ayat ini mengingatkan agar tidak bergantung pada jin, dan hanya berlindung kepada Allah.

Waktu membaca:

Sebagai pengingat untuk menjauhi praktik syirik

Saat merasakan kehadiran makhluk halus dan ingin memperkuat tawakal

 “Ingat, jin dan setan hanya bisa mengganggu yang lemah spiritualnya. Tapi kalau hatimu terhubung dengan Allah, mereka tak bisa menyentuhmu. Bukan karena kita kuat, tapi karena Allah yang menjaga.”

Henci langsung membaca semua bacaan itu malam itu juga.
Robin sempat tergelak saat membaca doa-doa itu—masih terbayang celananya yang basah. Tapi dia pun larut dalam lantunan ayat, dengan air mata dan rasa syukur bahwa ia masih hidup.

Antara Hantu Tambun, Maag Kambuh, dan Doa-Doa Kiai

Sesampainya di kosan, Henci tidak langsung membuka pesan WhatsApp, meski suara notifikasi terus berdenting. Ia lebih memilih mencari colokan charger dan segera mengisi daya ponsel yang nyaris mati—sama seperti jiwanya sore tadi saat melihat Hantu Tambun bermata merah menyala.

Sementara itu, Abdul, sang senior bijak dari organisasi Perisai, sudah lebih dulu mengirimkan enam bacaan ampuh untuk menghadapi gangguan makhluk halus. Bacaan itu tak hanya bersumber dari kitab-kitab klasik, tapi juga hasil ijazah dari para kiai sepuh yang Abdul hormati.

Inilah 6 ayat dan doa yang dikirim Abdul:

Surah Sad Ayat 41
"Dan ingatlah akan hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan.'"

Surah Al-Mu’minun Ayat 97–98
"Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’"

Surah As-Saffat Ayat 7
"Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan langit terjaga dengan bintang-bintang dan Kami menjaganya dari setiap setan yang durhaka."

Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255)
Perisai utama dari segala bentuk gangguan jin dan setan.

Surah Al-Fatihah
Sebagai Ummul Kitab, ia selalu menjadi pembuka segala doa dan penyembuh rohani.

Doa Nabi Sulaiman (An-Naml: 30–31)
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

Setelah mandi dan ganti pakaian, Henci duduk di samping HP-nya yang sudah terisi daya. Ia membuka pesan-pesan itu dan langsung me-forward ayat-ayat tersebut ke Robin, sahabat sekaligus saudara seperjuangannya di organisasi tali jagat—sebuah wadah spiritual dan perjuangan yang mereka yakini penuh berkah dari para pendiri yang alim dan saleh.

Sementara itu di tempat berbeda, Robin menggigil begitu tiba di kos. Tangannya dingin, kulitnya pucat. Tubuhnya lemas. Ia tahu: bukan hanya karena hantu. Tapi karena lambungnya yang protes. Maag-nya kambuh.

Dalam budaya Gorontalo, ada terapi tradisional yang biasa dilakukan saat seseorang ketakutan atau syok berat: Duitolo. Pijat khusus ini dilakukan oleh orang tua sambil membacakan sholawat dan doa tertentu dari kepala hingga kaki. Sayangnya, tak ada orang tua di kos saat itu.

Robin hanya bisa merebahkan tubuhnya yang lemah. Saat HP-nya bergetar karena panggilan Henci, ia tak sanggup mengangkatnya. Akhirnya ia hanya mengirim pesan singkat:

“Hen, saya nggak bisa angkat telepon. Masih menggigil.”

Mendapati pesan itu, Henci langsung gelisah. Ia tak menunggu. Ia tahu, sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berjalan menuju kos Robin.

Dalam perjalanan, HP Henci terus ia genggam. Tapi pesan Robin tak kunjung dibalas lagi. Ia menelpon—tak diangkat. Pikirannya mulai gelap. Jangan-jangan…? Tidak. Ia menepis. Ia terus berjalan lebih cepat.

Sesampainya di kos Robin, hal yang ditakutkannya justru terjadi.

Robin jatuh tepat di depan pintu kamar.
Tubuhnya ambruk. Tergeletak.

“Robin! Kau kenapa?”
teriak Henci histeris sambil berlari memeluk tubuh sahabatnya itu.

Penghuni kos langsung keluar kamar. Ada yang membawa minyak angin, ada yang menyiapkan air hangat. Salah satu di antara mereka adalah Imron, tetangga kamar Robin.

“Kak, bawa saja ke rumah sakit. Jangan dibiarkan lemas begini.”

Henci setuju. Tapi saat mereka hendak mengangkat tubuh Robin, Robin membuka mata dan menarik tangan Henci.

“Hen, tidak perlu ke rumah sakit. Aku baik-baik saja.”

“Kau harus ke RS, Robin. Jangan keras kepala. Lihat dirimu sekarang.”

“Hen, sungguh… aku hanya lapar. Sejak siang belum makan. Tadi maag-ku kambuh.”

Seketika ekspresi Henci berubah dari cemas menjadi… geram.

“kenapa tidak bilang dari tadi, robin!?”

Robin hanya menyeringai lemah.

“Belikan saja nasi bungkus dan air mineral. Itu sudah cukup menyelamatkanku.”

“Ok. Tunggu di sini. Jangan pingsan lagi. Kalau kau pingsan, aku lempar kau ke rumah sakit beneran,” ancam Henci sambil lari kecil keluar kos, meninggalkan Robin yang nyengir kaku di lantai.

Malam itu, nasi bungkus jadi penyelamat nyawa.
Dan hantu tambun?
Untuk sementara… terkalahkan oleh perut kosong dan nasi padang.

Ketika Hantu dan Konflik Bertemu

Usai makan dan minum obat, Robin tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Henci. Bagi Robin, Henci bukan hanya sahabat, tapi sudah seperti kakaknya sendiri. Tempat berbagi cerita dan keluh kesah. Begitupun sebaliknya.

Suatu hari, setelah memfasilitasi pengajian para Kiai, Robin kembali menyampaikan kegelisahannya kepada Henci. Ia risau melihat organisasi biru-kuning—organisasi terbesar tempat mereka bernaung—terus dirundung konflik.

“Organisasi itu harusnya mengurus kader dan anggota, bukan konflik terus,” keluh Robin.

Henci menanggapi dengan tenang, meski ia sadar jawabannya sedikit teoritis.

“Bin, namanya juga organisasi. Konflik itu hal yang wajar. Justru nggak sehat kalau organisasi adem-adem aja,” katanya.

“Konflik itu biasanya dua jenis: struktural dan finansial. Kau amati saja, tiap konflik pasti bermuara ke salah satu atau dua hal ini.”

Robin menatap Henci penuh minat. “Contohnya gimana?”

“Oke,” kata Henci, lalu mulai mengulas satu per satu. “Lihat saja Universitas Tali Jagad. Konfliknya tak pernah selesai.”

“Memangnya ada konflik apa di situ?” tanya Robin penasaran.

“Jelas ada. Dua hal: konflik jabatan dan konflik finansial. Kelompok pendiri kampus ditendang dari sistem. Sementara kepala kampus menuding mereka tak bisa mempertanggungjawabkan dana yang pernah mereka kelola.”

Robin manggut-manggut. “Hmmmh… jadi begitu ya?”

“Lah iya.”

Henci lalu menambahkan contoh lain: konflik di tubuh partai politik yang didirikan para elite organisasi Tali Jagat pada tahun 1998, yakni Partai Hijau Bintang Songo.

“Partai ini sempat pecah pada 2005. Ingat perseteruan antara Mimin dan Ad-dhakhil?”

“Oh iya, itu yang bikin dua kubu, kan?”

“Betul. Itu murni konflik struktural. Ad-dhakhil, Ketua Dewan Syuro, memecat Mimin karena dinilai terlalu dekat dengan Istana. Mimin dituding bermain mata dengan penguasa dan ingin mencalonkan diri jadi Wapres 2009.”

Namun, Ad-dhakhil gagal menguasai partai lewat jalur hukum. Mimin menang di pengadilan. Konflik keluarga pun tak terelakkan.

“Yang lebih parah, muncul narasi bahwa konflik ini hanya rekayasa. Tapi Putri Ad-dhakhil, Alissa, membantah keras.”

Henci mengutip pernyataannya:

“Seorang Ad-dhakhil tak mungkin mempermainkan mekanisme hukum hingga Mahkamah Agung hanya demi rekayasa. Bapak saya adalah pejuang demokrasi sejati.”

Robin kini mulai memahami kerumitan organisasi. Tapi ia tetap pesimis.

“Kalau begitu, kita mundur saja dari organisasi biru-kuning, Hen.”

“Tak perlu,” jawab Henci. “Toh kita bukan pengurus. Kita tetap bisa berkhidmah tanpa harus diakui.”

“Kita harus bangga. Berorganisasi bukan untuk cari jabatan, tapi untuk belajar. Ketika konflik datang, tak perlu ikut-ikutan.”

Robin mengangguk. “Okelah kalau begitu.”

Malam mulai larut. Henci pamit pulang. Namun sebelum beranjak sepuluh meter dari kosan Robin, ia kembali berbalik arah.

“Robin... Robin...”

“Ya, ada apa lagi, Hend?”

“Besok di Sam Rat, aku mau cerita konflik terbaru di Tali Jagat. Kalau aku lupa, kau ingatkan, ya.”

Robin hanya tersenyum lelah. Mereka berdua memang diminta Abdul untuk kembali ke Gedung Sam Rat esok sore.

Abdul sepertinya tak mau tinggal diam. Ia ingin menghadapi Hantu Tambun yang menakuti adik-adik tingkat hingga kencing di celana. Bagi Abdul, ini bukan sekadar aksi keberanian, tapi bentuk tanggung jawab sebagai senior.

Abdul tampaknya ingin mengakhiri kisah mistis di Sam Rat—agar tak ada lagi korban berikutnya.

Kentut di Tengah Ketegangan Sam Rat

Siang itu sinar matahari terasa perih menembus tulang Abdul. Kumandang Adzan terdengar keras dari toa masjid. Menandakan waktu sholat zuhur tak lama lagi selesai. Sebelum menuju ke gedung samrat, Abdul mampir menunaikan sholat di masjid kampus. Jarak masjid tak jauh dari lokasi tujuan.

Sementara Henci dan Robin saling mengabarkan via whastsapp bahwa hari ini mereka janjian bertemu Abdul di gedung samrat. Namun Henci sepertinya mengurungkan niat datang. Ia trauma ke gedung samrat. Peristiwa yang pernah menimpanya sulit dilupakan. Kejadian itu sangat membekas.

“Bisakah kau sampaikan ke kak Abdul aku tak bisa datang, Robin?”

“Hah! Kenapa?”

“Kejadian kemarin masih menghantui pikiranku”, tulis Henci lewat pesan Whatsapp diakhiri emot menangis

“Ah! Kan ada kak Abdul. Aku tidak bisa menjelaskannya. Kamu telpon saja kak Abdul bahwa kau tidak bisa datang”

Abdul senior paling pemarah. Jika sudah menyepakati janji, tidak boleh dilanggar. Meski alasan yang disampaikan masuk diakal.

Tak lama, bunyi panggilan telepon berdering. Henci melewati panggilan pertama Abdul. Pada panggilan ke dua, Henci mengangkatnya.

“Hei! Kalian dimana? Saya sudah di depan Aula. Cepat ke sini saya tunggu!”

“Siap kak, saya segera ke sana!” Kata henci dengan terpaksa

Henci semakin tak karuan usai menerima telepon dari Abdul. Bayangan Hantu tambun sekejap datang di kepala. Ia berusaha melawan bayangan. Dan langsung menelpon Robin untuk segera datang ke gedung sam rat.

Sambil menunggu henci dan robin datang, Abdul yang penasaran penampakan Hantu Tambun seperti apa, ia langsung masuk ke gedung. Gedung ini biasanya tak dikunci. Abdul masuk begitu saja. Hawa gedung mulai terasa dingin. Abdul tak asing dengan hawa yang bikin merinding bulu kuduk. Ia tetap tenang.

Cahaya dalam gedung sedikit gelap. Jendela tertutup rapat. Terlihat tikus berlarian melihat Abdul yang dikira menangkap mereka. Abdul merasa sosok misterius mendekatinya. Ia tak nampak, tapi Abdul sangat merasakan. Abdul mulai merapal doa. Doa yang ia baca adalah doa yang pernah ia kirim ke Henci dan Robin.

Abdul tak gentar sedikitpun. Ia terlihat santai. Selain mengaku punya amalan jitu, ia juga banyak pengalaman menghadapi berbagai macam hantu. Mulai hantu ngesot, tak punya kepala, bibir memble rambut kriting dan kuntilanak.

Tak putus-putus doa ia rapalkan. Hantu Tambun semakin dekat dan segera menampakan dirinya. Abdul menahan napas. Doa ia terus baca dalam hati. Hantu itu dengan jelas menampakan dirinya. Abdul masih menahan napas sambil menutup mata. Setelah mata Abdul dibuka, hantu itu dengan tepat sudah berada di depan mata dan hidungnya.

Abdul yang sedikit latah, terkejut lalu kentut besar. Suara kentut seperti kain yang dirobek. Terdengar hingga pintu gedung sam rat. Henci dan Robin sudah di depan pintu gedung. Mereka tidak langsung masuk dan menyapa Abdul yang sedang melawan Hantu. Takut ketika upaya Abdul gagal.

Saat hantu menampakan dirinya, ia langsung hilang. Menurut Abdul, Hantu Tambun sangat seram dibanding hantu-hantu yang ia temui sebelumnya. Ia tak tahu, saat hantu menampakan dirinya, ia kentut keras. Kentut Abdul sampai di depan pintu. Rasa takut henci dan robin berubah sekejap. Mereka tertawa saat mendengar kentut yang tak lazim.

Saat mendengar sumber suara seperti mengejek, Abdul langsung naik pitam dan mendekati suara. Ternyata Henci dan Robin.

“Kurang ajar! Sudah terlambat, kalian malah tertawa. Apa yang lucu!”, Bentak Abdul

Mendengar bentakan senior, mereka langsung diam. Abdul ikut bertanya lagi, kenapa mereka tertawa.

“Maaf kak, minta maaf”, kata henci dengan pelan

“Kalian ini tidak tepat waktu. Aku pikir kalian sudah di sini sejak tadi”

“Kenapa kelian tertawa!?”, tanya Abdul lagi

“Sekali lagi maaf, kak. Kami tertawa karena kentut kak Abdul keras sekali”

“Perasaan tadi saya tidak kentut. Ah! Kalian ini”

Misteri Hantu Tambun dan Kentut Yang Menggema

Hari itu telah berubah menjadi senja. Langit berwarna jingga keemasan, udara perlahan mendingin, dan di teras gedung Samrat yang sudah renta oleh waktu, tiga orang anak muda duduk membisu: Abdul, Henci, dan Robin. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Hening yang menyelimuti mereka tiba-tiba pecah oleh deru kendaraan yang melintas di jalanan depan. Henci dan Robin saling curi pandang, mulut mereka bergetar menahan tawa. Ingatan akan suara kentut Abdul yang meledak keras di dalam gedung—suara yang nyaris lebih keras dari azan maghrib—membuat mereka tak kuasa menahan geli. Tapi mereka tahu, tawa itu bisa berujung petaka. Abdul dikenal mudah tersinggung, apalagi jika merasa harga dirinya terusik.

“Kak, kita pulang saja,” usul Henci pelan, berharap bisa segera menjauh dari suasana janggal itu.

Namun seperti biasa, Abdul menyambut dengan nada tinggi, “Tunggu!”

Nadanya membuat jantung Henci mencelos. Tapi tampaknya Abdul hanya butuh waktu untuk tenang. Ia masih diselimuti rasa kaget oleh kemunculan mendadak Hantu Tambun—sesosok entitas astral berbadan besar, wajah samar, dan mata membara, yang katanya adalah penunggu gedung Samrat. Katanya lagi, gedung itu dulu adalah lokasi tempat kejadian tragis, dan kini arwah-arwah gentayangan menghuninya, tak ingin diganggu, apalagi diklaim manusia.

Meski mengaku punya banyak amalan pengusir makhluk halus, Abdul tetap syok melihat langsung wujud si Hantu Tambun. Bahkan, gas yang keluar dari tubuhnya disertai suara memecah kesunyian adalah bukti bahwa keberaniannya ternyata ada batasnya.

Mereka akhirnya menuju masjid kampus yang tak jauh dari sana. Tapi baru beberapa langkah, Abdul berhenti. Motornya susah digerakkan.

“Kak, ban belakang bocor,” ujar Robin, menunjuk ke ban yang mulai mengempis.

“Astagfirullah. So soe apa kita ini. Ebeeeh!” keluh Abdul.

Robin menyarankan motor dituntun dulu ke masjid, lalu selepas shalat bisa didorong ke bengkel. Abdul setuju. Dan setelah menunaikan shalat maghrib, mereka duduk sebentar di pelataran masjid, menikmati angin sore yang mulai menusuk.

“Bin, ternyata kak Abdul juga takut hantu, ya?” bisik Henci pelan.

“Padahal katanya banyak amalan,” balas Robin.

“Iya juga. Tapi kan dia mendatangi hantu itu sendirian,” tambah Henci, kali ini nada suaranya lebih menghargai. Apa pun yang terjadi, keberanian Abdul pantas diakui.

Namun percakapan mereka terputus. Abdul tiba-tiba berdiri di belakang mereka dan berkata tegas, “Ayo! Kita dorong lagi motornya ke bengkel.”

Tanpa banyak tanya, Henci dan Robin langsung berdiri. Mereka menuntun motor Abdul yang bannya kempis, sementara Abdul mengendarai motor Robin dari belakang. Perjalanan ke bengkel tak terlalu jauh, hanya sekitar 50 meter. Tapi setelah pengalaman barusan, jarak itu terasa seperti marathon mental.

Di bengkel, sambil menunggu ban motor ditambal, Abdul duduk bersandar di kursi plastik. Ia menatap Henci dan Robin dalam-dalam, seperti hendak menyampaikan sesuatu yang serius.

“Hen, apa betul saya kentut tadi?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, dan sejenak membuat suasana hening kembali. Robin melirik Henci. Henci menggigit bibir, mencoba menahan senyum.

“Benar, Kak. Bahkan saya dan Robin kaget sekali,” jawab Henci jujur, tapi pelan.

“Betul, Kak,” timpal Robin cepat, meski dengan sedikit takut-takut.

Abdul memejamkan mata. Wajahnya sedikit memerah, entah karena malu atau karena ingin marah. Tapi kemudian ia menarik napas panjang dan mendengus, “Yah… mungkin saja.”

Hening sebentar. Lalu terdengar suara ketukan palu dari dalam bengkel. Saat itu juga, tiga tawa meledak nyaris bersamaan. Tak bisa ditahan lagi. Bahkan Abdul pun ikut tertawa kecil. Ia sadar, apapun yang terjadi tadi, meski memalukan, menjadi cerita yang tak akan mudah dilupakan.