Jogja, Dua Gadis dan Sembilan Nilai Utama Gus Dur


Perasaan itu tiba-tiba muncul setiap memutuskan untuk pulang. Tak sanggup meninggalkanmu. Rasanya ingin lebih lama bercengkrama. Menikmati setiap bagian sisi tubuhmu. Memahami sudut-sudut malam dalam setiap liku, dan berharap selalu belajar darimu; Jogjakarta, ada rindu yang harus dituntaskan tentang keistimewaanmu.

Sayang, hati yang melankolik ini dipatahkan oleh notifikasi SMS dari seberang, “Capat pulang! So pesan tiket? Jam brapa mo pulang?”. Ah, bukankah itu sebuah SMS perhatian dari sang pencinta yang jauh? Bahkan itu menjadi vitamin yang melampaui dukungan selama ini? Pengalaman ke beberapa kota besar di Indonesia sudah cukup bagi saya pribadi. Tersebutlah Makassar, Jakarta, Surabaya, atau Batam.  Namun jujur, meski baru pertama kali menginjakan kaki di Jogjakarta, ada perasaan yang berbeda tentang kota ini.

Bukan isi SMS yang membuat saya ingin cepat pulang. Akan tetapi, sebuah perjumpaan dengan jejaring yang selama ini hanya terjadi pada laman-laman media sosial, menjadi satu pada sebuah halaman bertajuk Rapat Koordinasi Nasional Jaringan GUSDURian. Untuk alasan inilah yang mendorong agar secepatnya pulang. Sebab, hasil Rakornas segera tersosialisasi mengingat kehadiran Jaringan GUSDURian Gorontalo terbilang baru dan belum mampu mewarnai dalam hal perumusan wacana dsb.Tak hanya itu, tanggung jawab  sebagai Kepala Keluarga pula yang mendorong untuk meninggalkan Jogja.

Ceritanya begini. Saya lupa pesan tiket pesawat dari awal. Seharusnya, pemesanan tiket  jauh sebelum keberangkatan agar tiket pesawatnya murah--meriah. Untuk meminimalisir Anggaran Bantuan Sahabat (ABS), yang saya dapat dari beberapa sahabat dan agar dana cukup untuk balik pulang, maka saya memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dari Jogja ke Jakarta dengan Kereta Api. Siapa tahu dari Jakarta ke Gorontalo, tiket pesawat lebih murah. Juga siapa tahu ketika di Jakarta bisa meyempatkan waktu untuk bertemu dengan tokoh-tokoh NU.

Saya tidak sendiri bepergian. Seorang GUSDURian Mamuju menemani saya. Namanya Fajar. Fajar pakai kaos oblonk merah. Sesekali saya panggil dia dengan sebutan Fajar merah. Nah disini, di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Jogyakarta, jam menunjukan Pukul 17 lebih 40 menit. Jadwal Kereta Gajah Wong (GW) ke Jakarta yang akan dinaiki si Fajar Merah itu pukul 18.00 tepat. Nyaris tak dapat tiket saat itu.
 
“Tiket KA GW tujuan Pasar Senen, Jakarta masih ada pak?” tanya saya ke petugas loket.
“Ada, Mas. Harganya 220 ribu,” jawab pria di dalam loket.

Ketika waktu berangkat kereta telah tiba, saya dan Fajar Merah beda gerbong. Saya Gerbong 5, sementara Fajar di Gerbong 4.

Dari sekian penumpang, hanya saya yang paling sibuk mecari tempat duduk. Maklum, baru kali itu naik kereta. Saya tidak langsung begitu saja duduk. Ada dua sosok mahluk berlawanan jenis didepan kursi yang akan saya tempati.

“Permisi, mbak,” saya menyapa dengan senyum terbaik. “Oh ya, mas.Silahkan,” jawab salah satu gadis itu.

Saya mengorek sedikit keterangan dari kedua gadis itu. Di Jogja mereka Praktek Kerja Lapangan (PKL) disalah satu instansi Pemerintah Kota Jogja. Santi dan Dewi nama keduanya. Mereka mahasiswi asal Purwokerto. Jarak dari Jogja ke Purwokerto sekira 4,5 Jam. Tiba-tiba, entah setan apa yang merasuki pikiran saya sehingga dapat menyimpulkan secara spontan, bahwa dua mahasiswi itu masih perawan.Ya, amplop. Astagfirullah.

Lelaki memang dilahirkan dengan perasaan yang kuat terhadap wanita. Sebab lelaki suka melihat wanita atau mencuci mata di tepi pantai atau swimming pool seperti kaum lelaki kebanyakan. Atau kita bisa merujuk ke sebuah dalil dalam Al-qur’an yang berbunyi,“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).

Penulis tidak bisa bayangkan jika sebuah ayat ini disalah jadikan pegangan tanpa mengabaikan konteksnya, wallahu’alam. Ada niat Ingin mengenal dua mahasiswi yang cantik itu lebih jauh. Tapi entah mengapa, niat itu selalu dipatahkan oleh sesuatu yang sangat mengikat dan suci pula. Sehingga niat itu selalu pupus. Tidak hanya sebuah ikatan suci yang selalu menjaga dan mematahkan niat ingin tahu. Akan tetapi, peran untuk menciptakan sebuah rasa keadilan yang sering menjadi menghantui.

Bagi seorang yang cukup memahami bahasa tubuh lawan jenis.Saya memahami ada geliat dan respon dua wanita itu untuk memahami mereka untuk terlibat dalam sebuh perbincangan. Bahasa-bahasa tubuh yang dikeluarakan mereka selalu ku alihkan dengan cara membaca lebih khu’syu buku saku Jaringan GUSDURian yang berisi 9 Nilai Utama Gusdur. 
Berikut teks 9 nilai Utama Gus Dur itu;

Pertama Ketahuidan

Ketahuidan berasal dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya dzat hakiki yang maha cinta kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketahuidan didapatkan lebih dari sekedar diucapakan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam di jagat raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu dapat diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan dalam menegakan nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua kemanusiaan

Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghiormati. Memuliakan manusia berarti berarti memuliakan penciptanya. Demikian juga merendahakan manusia dan menistakan manusia berati merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur Membela kemanusiaan tanpa syarat.

Ketiga Keadilan

Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir didalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggung jawab itu, ia berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Keempat Kesetaraan

Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

Kelima Pembebasan

Pembebasan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Semangat pemebebasan hanya dimiliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pemebebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi dirinya dan manusia lain.

Keenam Kesederhanaan

Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran subtansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan.

Ketujuh Persaudaraan

Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan semangat menggerakan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasaruntuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

Kedelapan Keksatriaan

Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekwensi yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apappun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

Kesembilan Kearifan Lokal

Kearifan tradisi bersumber dari nilai-nilai sosial budaya yang berpijak pada tradisi dan praktek terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan tradisi Indonesia di antaranya berwujud dasar Negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, Prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial, budaya politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Dengan membaca buku saku jaringan GUSDURian yang berisi 9 Nilai Utama Gus Dur itu, saya terus menyelam kedalam pemikiran-pemikiran Gus Dur. Tibalah di stasiun kereta Purwokerto, dua mahasiswa cantik nan jelita itu berpamitan kepada saya sembari menghadiahkan sebuah senyum perpisahan.
 
“Mari yo mas.” “Ya, mbak,” jawab saya dengan senyuman penyesalan.

Mereka turun dan beberapa menit kemudian kereta melanjutkan perjalanan. Dari tulisan ini saya menyimpulkan sebuah hikmah yang sangat sederhana bahwa dengan membaca Buku saku Jaringan Gus Dur-ian saya terhindar dari sebuah 'godaan'. Dan godaan itu masih perlu dipertentangkan hingga tulisan ini ada dihadapan anda :).
 
Djemi Radji  (Peserta Rakornas GUSDURian 2016, Jogja)
(Ditulis dalam Kereta Gajah Wong saat perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta 2016)
 

Posting Komentar

0 Komentar