Panah Wayer, Dinamika Geng dan Respon Kita

(Foto: Panah wayer -  kronoligi.id)

Belakangan ini Gorontalo terus saja diwarnai peristiwa aksi Panah Wayer antar geng. Dan lebih parahnya, aksi kekerasan ini justeru didalangi anak-anak muda belasan umur. Rentetan peristiwa menjadi ‘momok’ menakutkan sebagian warga Kota, yang hendak bepergian malam hari. Entah apa pemicu para geng ini saling serang. Naas, korban pun berjatuhan dan salah sasaran.

Rentetan aksi para geng ini tak luput dari perhatian dan kecaman para netizen. Ketika letupan aksi beruntun di share dan memenuhi sosial media (FB dan WAG), beragam cacian membuncah. Sejumlah kalangan menilai, aksi yang kerap tejadi justeru dilatarbelakangi ketersinggungan antar geng. Dari ketersinggungan inilah awal untuk melampiaskan dendam. 

Ada pesan yang ingin ditunjukkan para geng. Pengakuan mereka sederahana, siapa geng jarang dapat ancaman dari pihak lawan, maka ia adalah geng paling ditakuti. Namun tahukah kita fenomena geng seperti ini bisa kita jumpai pada era 90 an di Gorontalo? Mereka tak lain sekedar ingin menunjukan eksistensi. Bahkan keterlibatan pelajar cukup signifikan dalam aksi kekerasan pada era itu.

Menariknya, nama geng tersebut dibentuk sesuai dengan karakter maupun identitas lokasi. Ini menandakan bahwa mereka cukup terorganisir dan patut diwaspadai.

Dilansir dari berbagai sumber, nama-nama geng tersebut bis mebuat kita tersenyum, bahkan terpingkal-pingkal saat membacanya. Tersebutlah Geng Rohama (Roh Hantu Malam), Bona (Bocah Nakal), Rokema (Rombogan Kelawar Malam), BaruBeNa (Baru Belajar Nakal) dan Geng JakPot (Jejak Pot-Pot). Cukup membuat tersenyum, bukan?

Nah, jika anda melintasi Kelurahan Tomolobutao-Dungingi sepanjang lokasi penjualan pot bunga, disinilah lokasi geng Jekpot berserikat. Anda perlu berhati-hati agar tidak menjadi korban berikutnya. Biasanya aksi kekerasan ini hanya terjadi di malam hari. Jika terpaksa keluar, disarankan Anda memakai helm tertutup, pun jacket tebal, bertujuan untuk menangkal panah nyasar.

Nama-nama geng ‘lucu’ seperti tadi, juga  bisa kita jumpai di era 90-an di Kota Gorontalo. Di era ini, ada nama-nama geng yang cukup populer. Semisal Geng Sasino (Sana Sini Nongkrong), TC (Topan Club), Gas (Gabungan Anak Sentral), GNR Club (Guns N Roses), BS Club (Black Shadow), HW (Helloween), Lapendos (Laki-Laki Penebus Dosa), Sabata (Sapu Dulu Baru Tanya), dan The Pupies yang logo tapak kaki anak anjing. 

Tak kalah seru,  ada juga namanya Geng Siang Kalo Siang (SKS), yang turut mewarnai kehidupan geng saat itu. SKS bisa dibilang cukup berbahaya di era ini. Kelompok ini paling mengagumi musik dangdut. Mereka ini mulai beraktivitas pada pukul 8 malam dan selesai usai ‘ritual’ minum ‘cap tikus’ (arak khas manado) hingga pukul 8 pagi.

Kisah Ketua Geng SKS 

‘Kadang-kadang torang (kami), capat pulang (cepat pulang) kalo dapa masalah (kalau mendapat masalah). Kalo dapa lia orang lewat, torang dola  (Kalau lihat orang lewat, kami hentikan). Torang minta akan roko atau uang (Kami akan mintai rokok atau uang),” ungkap Inong alumni geng SKS saat dijumpai di kawasan Jalan Sudirman-Kota Gorontalo.

Saat didaulat menjadi ketua geng oleh rekan-rekannya, Inong mencertikan bagaimana keinginan untuk berkumpul dan berbagi kisah bersama sangat kuat. Mengingat banyak dari mereka penganggur. Latarbelakang mereka tentu berbeda-beda. Ada yang berstatus pelajar, putus sekolah dan ada juga tamatan sekolah tingkat  atas. Di era mereka jarang sekali ada rekan sejawat melanjutkan studi. 

Keadaan serba tak pasti membuat mereka tak punya harapan untuk masa depan. Menurut Inong, masa-masa itu sulit mendapatkan pekerjaan. Lapangan kerja buat anak muda seperti mereka tak bisa dijumpai. Berkumpul malam hari hingga pagi tiba adalah pilihan tepat untuk menyalurkan kekecewaan terhadap keadaan yang tidak pasti.

Meski demikian, ketika mengingat masa-masa itu, Inong menyadari, apa yang pernah dilakukan semasa muda cukup menyita waktu dan merugikan, baik diri mereka dan orang lain.

Inong (48) saat ini berprofesi sebagai tukang bentor (becak motor). Ia hanya tamatan Sekolah Dasar. Menurutnya, profesi ini sangat layak untuk tekuni. Kadang ia terbesit untuk meninggalkan profesinya untuk berdangan di pasar-pasar mingguan. Karena penghasilan dari Ojek Bentor tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya sehari-hari.  

Ketika ditanya mengenai aksi kekerasan yang tengah merasuki anak-anak muda saat ini, ia mengatakan turut prihatin akan peristiwa saling serang antar geng saat ini. Keterlibatan pelajar akan aksi kekerasan cukup singnifikan di Kota Gorontalo. Dengan demikian, Ayah empat anak ini berharap, agar pemerintah dan seluruh staekholder mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik dan adil. 

Menurutnya, sepak terjang geng saat ini cukup berbahaya ketika dibanding era 90an. Perlu ada pendekatan serius untuk menyikapi fonomena kekerasan antar geng ini. Disisi lain, ia berharap, kebijakan yang akan diambil pemerintah mampu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial dan kemanusian .Jangan sampai, menyikapinya justru menambah masalah baru.

Topan Club Geng cukup ditakuti

Kisah dunia geng lainnya bisa kita ikuti penuturan Sakula, pentolan Topan Club (TC). Diera mereka,  peristiwa tawuran antara geng kerap terjadi, bahkan saling-serang dan memakan korban. Ia bercerita, pada masa-masa itu, bahwa setiap kelompok harus dikenal dan ditakuti. Bahkan kekuatan kelompok, sepak terjang dan kelebihan mereka perlu disampaikan kepada lawan melalui perantara kelompok.

Ada istilah kala itu, bahwa geng yang banyak anggota dialah yang ditakuti. Mereka punya syarat penjaringan kader. Seleksi dan doktrinasi terus digalakkan agar mendapat hasil yang baik, yakni anggota yang loyal dan militan terus diuji. Bahkan ada istilah lain; ‘Semakin banyak para pengkut, maka semakin Geng itu ditakuti'. 

Markas TC berada di Kota Barat (Dungingi saat ini) tak jauh dari pusat Kota Gorontalo. Mereka kerap kali bermusuhan dengan Sabata, geng sebelah kampung, yang cukup ditakuti dan mempunyai jumlah pengikut kurang lebih 40 an orang. Tawuran biasanya terjadi saat hajatan-hajatan kampung (pernikahan, dsb), yang menyuguhkan hiburan orgen dan karaoke kampung.

Mafhum, era saat itu bisa dibilang ‘haus hiburan’. Muda-mudi datang berbondong-bondong memadati titik keramaian dan suguhan musik pesta. Tak ketinggalan kaum tua juga turut menyaksikan. 

Saat itu umur Sakula baru belasan tahun. Ia duduk di bangku kelas tiga SMA. Keinginan mereka ‘bergerombol’ sangat besar. Sakula terbilang anggota baru dalam geng TC. Ketika ada perintah datang dari pimpinan, harus segera dilaksanakan tanpa berfikir resiko.

"Setiap anggota selalu diuji berulang-ulang. Kadang tugas yang diberikan sangat sederhana. Ada juga yang sulit harus dikerjakan dan selesai", tuturnya.

Namun ada kebanggaan tersendiri dalam dunia para geng saat itu. Ketika ada ancaman datang dari pihak musuh, yang mencoba melecehkan pengikut lain, maka tak lama kemudian sang ketua geng turun tangan membela anak buah mati-matian. 

"Siapa yang melecehkan anak buah, maka ia turut melecehkan sang ketua", katanya 

Sakula bercerita bagaimana ia mengemban tugas yang diberikan disaat genderang perang antar geng mulai di tabu. Tugas diemban Sakula cukup sederhana, yakni mengumpulkan sandal dan sepatu milik anggota ketika lepas, saat terjadi perkelahian antar geng. Sederhana memang, namun juga berbahaya.

“Tugas awal diberikan sederhana. Mengumpulkan sandal dan sepatu para teman-teman yang lepas saat terjadi perkelahian dengan geng lain,” tutur Sakula yang saat ini berprofesi sabagai Aparat Negeri Sipil

Sakula kecil hidup berpindah-pindah dari Kecamatan satu ke Kecamatan lainnya di Kota Gorontalo. Kehidupan keluarga yang serba berkecukupan membuat pria kelahiran Gorontalo ini banyak berjumpa dengan lingkungan berbeda.

Di lingkungan baru inilah, ia berjumpa dengan geng TC dan turut berkontribusi dalam kehidupan geng. Awalnya, Sakula tak ingin meceritakan pengalamannya terlibat dalam geng. Alasannya masuk akal, bahwa ia tak ingin pengalaman ini ditulis dan bisa dibaca oleh atasannya dan rekan se-profesi. 

Setelah penulis menjelaskan panjang lebar maksud tulisan, demi menginspirasi orang lain, maka ia bersedia berbagi kisah. Pahit memang kisahnya, tapi ia harus tuturkan.

Kisah Inong dan Sakula mengambarkan betapa kehidupan saat itu sangatlah pelik. Pengangguran dan kehidupan yang tak pasti membuat mereka sangat dekat akan perilaku kekerasan. Dua pentolan geng lokalan ini tak bisa kita ‘ramal’ menjadi manusia yang lebih baik. 

Olehnya, kebijakan pemkot mestinya dimulai dengan pertanyaan; apa saja yang melatarbelakangi kehidupan para geng dan bagaimana cara penanganannya?

Kita tak bisa meramalkan nasib Inong dan Sakula hari ini. Ketika masa muda mereka penuh lika-liku serba tak pasti. Kehidupan serba tak pasti membuat mereka dekat dengan tindak kekerasan. Intruksi mengeluarkan anak-anak dari sekolah, bukanlah akhir dari persoalan pertikaian antar geng anak muda di Gorontalo.

Mestinya, pendalaman terhadap peristiwa-peristiwa saat ini sangat diperlukan untuk merumuskan tindakan yang lebih adil dan manusiawi. Dengan demikian, bukankah mendalami masalah lebih maslahat, ketimbang mengeluarkan anak-anak dari sekolah?

Yogyakarta, Sebelas November 2019
Djemi Radji (Penulis Penasehat di LAKPESDAM PCNU Kota Gorontalo)

Posting Komentar

0 Komentar