Jika dihitung menggunakan penanggalan masehi, Nahdlatul Ulama lahir pada bulan April 1926. Itu berarti ia sudah cukup tua. Ia hadir bukan dalam ruang yang hampa, akan tetapi ia adalan jalan hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Organisasi sosial keagamaan terbesar ini adalah organisasi yang sejatinya berupaya melestarikan dan mengembangkan ajaran tradisi keagamaan Islam, yakin Ahlussunnah Wal Jamaah.
Tradisi keagamaan itu tengah dijalankan dalam kehidupan masyarakat, utamanya di Gorontalo. Dan tradisi keagamaan ini pun cukup kuat dijalankan oleh sejumlah majelis-majelis dzikir yang banyak berafiliasi jelas dengan NU. Mejelis-majelis yang syarat dengan amaliah-amaliah NU perlu dibela apabila ia tengah diperlakukan tidak adil oleh siapa saja. Pembelaan-pembelaan kepada majelis yang sedang mengembangkan dan merawat tradisi NU wajib dibela tanpa bertanya dalilnya dari mana. Membela mereka, sama halnya membela NU, bukan?
Namun teror yang cukup menyayat hati terhadap majelis-majelis bersanad jelas pada tareqat yang dinaungi NU sangat rentan dilabeli 'sesat'. Faktor yang melatarbelakangi itu cukup beragama. Salah satu faktor ialah menguatkan peran-peran keagamaan yang anti terhadap NU. Jika NU di Gorontalo tidak segera berbenah dari berbagai kelemahannya, NU akan tertinggal dan ditinggal para jamaahnya. Jika situasi itu terus dibiarkan, maka NU barangkali hanya papan nama. Terpampang rapi depan jalan protokol, namun lemah tak berdaya ketika ada jamaah maupun majelis dzikir yang wajib dilindungi dibiarkan begitu saja.
NU Gorontalo Sering Hilang Momentum
Setiap momentum, NU selalu ketinggalan. Apalagi merespon perlakukan kelompok puratinis islam, yang terus saja merongrong amalia NU. Dimana akar tradisi yang selama ini dipertahankan oleh para Ulama terdahulu, dibiarkan begitu saja tanpa dibela. Misalnya saja respon atas kasus penyesatan terhadap salah satu majelis dzikir dan doa yang sempat menghebohkan di Gorontalo, NU entah dimana.
Adakalanya, kelompok puritanis Islam sengaja memanfaatakan instrumen negara untuk melancarkan misi keagamaannya untuk menyerang paham lainnya yang berbeda. Atau juga mereka memperalat negara untuk melancarkan misi mereka. Dari sini, kita akan lihat, setiap produk kebijakan yang akan lahir dari negara itu. Mereka bisa melakukan apa saja dan bahkan bisa berbaur dengan siapa saja demi tercapainya misi. Dalam konteks kota gorontalo bisa kita lihat, organisasi mana sajakah yang lebih dan didukung oleh pemerintah? Bisa saja hari ini belum jelas terlihat.
Contoh kasus misalnya, pernyataan Wakil Walikota Budi Doku, bahwa Mejelis Dzikir dan Doa Muhyin Nufuus adalah aliran sesat. Barangkali karena 'keterbatasan' pengetahuan mengenai dunia spiritual keagamaan ala NU, Wakil Walikota Gorontalo dengan begitu cepat membeberkan kepada media cetak dan televisi lokal, bahwa majelis tersebut sesat dan perlu diawasi keberadaanya. (Baca Radar Gorontalo Edisi Januari 2016, dr Budi Ungkap Aliran Sesat,Kamis/27/1). Padahal Majelis tersebut terdaftar dan legal diakui Kemenkumham.
NU secara lembaga maupun individu tidak bersuara ketika penyesatan kepada mejelis tersebut. Padahal, bila dilacak kembali kehadiran dan atau lahirnya NU, maka yang ada adalah, bahwa NU sejak didirikan bertujuan menciptakan suasana kehidupan beragama yang damai dan harmonis serta menengahi perdebatan masalah khilafiyah di antara umat islam lainnya. Kini, NU sepertinya hilang ingatan atas bacaan perjalanannya sendiri.
Tak dapat dipungkiri, bahwa saat ini kita tengah dalam gempuran ideologi “impor”, yang menempatkan Islam dan budaya sebagai dua kutub saling berseberangan. Dan padahal, sejak dulu, para Kesultanan di Gorontalo dari Motudulokiki hingga Sultan Eyato, telah menyepakati bersama, bahwa Bumi Gorontalo bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, yang pada subtansinya agama menyatu dengan tradisi kebudayaan Gorontalo.
Al Habib Ali Hasan Bahar, pada sebuah wawancara pernah mengatakan, bahwa munculnya gerakan di setiap negara didalangi kelompok anti Sunni-Syiah. Gesekan ini tak lepas dari terbentuknya kerajaan Arab Saudi, yang berkolaborasi dengan paham keagamaan Wahabi yang sangat puritan dalam beragama. Dan hal ini kata habib, telah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) di Nusantara.
Menurutnya, Nusantara tak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideologi pun tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi kata Habib, gerakan Wahabi masuk dengan pola terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati terus mengalir dari pemilik dana, yang tak lain ada adalah kerajaan Saud, Arab Saudi.
"Mereka bekerjasama dengan percetakan, media dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini", ujar Habib Ali Hasan Bahar, mantan Ketua Habaib DKI Jakarta, seperti dikutip dari Indonesia Monitor
Memetakan Potensi
NU Gorontalo harus menjadi kekuatan pemberdayaan ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan. Agar cita-cita NU membagun negeri secara menyeluruh baldatun thayyibatun warabbun ghafur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang terbuka (inklusif), toleran dan damai dapat terwujud.
Banyaknya perangkat di tubuh NU sendiri mestinya segera diberdayakan dengan cara kolektif. Mengkonsolidasikan potensi kader Ulama, Akademik, Profesional dan Fungsional perlu diinisiasi segera. Jika proses pengkaderan ditubuh NU berjalan dengan baik, terstruktur rapi dan sistimatis, maka kekuatan-keuatan ini yang akan berhadap-hadapan dengan kekuatan lain, yang berpotensi merusak NU.
NU segera memetakan kekuatannya berbasi data. Seberapa besar sebaran kader diberbagai level yang ada. Dan sejauh mana pengaruh dan kapasitas yang mereka miliki. Tidak terus-terus mengklaim bahwa ia mayoritas, namun pada kenyataannya, orang-orang NU hanya 'tukang klaim'. Menandakan, bahwa orang-orang NU tidak selalu berpijak pada kenyataan yang ada.
Berkaca pada kasus sesat-menyesatkan terhadap majelis, yang berada di bawah naungan Banom tertua NU itu, harusnya menjadi tamparan keras buat NU Gorontalo. Tapi dengan melihat absennya NU dalam menangani persoalan tersebut, seolah menegaskan kembali bahwa NU Gorontalo “mandul” membela amaliah NU. Dan barangkali, tamparan itu harus lebih keras lagi.
Penyesatan terhadap Majelis di Gorontalo tidak hanya disampaikan Wakil Walikota Gorontalo, penyesatan terhadap majelis dzikir ini kembali terjadi, kali ini dilakukan oleh salah satu oknum kepolisian di Gorontalo
Tuduhan-tuduhan yang dialamtkan oleh oknum polisi dan Wakil walikota Gorontalo sangat jelas menyakiti NU ditingkat kultur, khususnya, dan umumnya kaum Nahdliyyin di Gorontalo. Namun labeling dari pejabat negara dan aparatus tidak juga membuka mata NU Gorontalo.
Membaca Kembali Khittah NU 26
Saya kira, NU Gorontalo sebaiknya meluangkan waktunya untuk lebih banyak mengkaji kembali makna dan histori peran dan semangat NU lahir. Misalnya dengan membaca pola dan model gerakan tokoh-tokoh besar pengurus NU, semacam KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH. Ridwan Abdullah, KH. Asnawi, KH. Maksum, KH. Nawawi, KH. Nahrowi, dan KH.Alwi Abdul Aziz. Dugaan penulis, hal ini hanya sebatas pengetahuan mereka (elit NU Gorontalo), namun hal itu tanpa dibarengi dengan tindakan yang real.
NU lahir bukan milik umat Islam semata, tetapi milik penghuni Nusantara dan dunia, yang mampu menerima semua perbedaan. NU Gorontalo seharusnya memahami posisi dan perannya sebagai organisasi, yang ada di tingkat wilayah dan hingga cabang (kabupaten/kota) perlu waspada dan mencari formula baru untuk menyikapi munculnya ideologi “impor”, yang dapat memecah belah umat di Gorontalo.
Jika dilihat, dimana ketika serbuan kaum Wahabi ke kota Suci Mekah 1924 dan ke Madinah 1925, sangat mengganggu pelaksanaan kehidupan beragama di Hara main, yang dihuni umat Islam se dunia, dengan ragam madzab perlu dijadikan pelajaran untuk dapat membentengi kehidupan keagamaan kaum nahdliyyin dari serangan-serangan anti amaliayah NU.
Sejarah ini barangkali hanya sekedar sejarah tanpa perenungan lebih dalam bagi elit-elit NU di Gorontalo secara struktur. Pembentukan komite hijaz bertujuan menyampaikan pesan dan harapan ulama Aswaja di Nusantara.
Potensi NU Gorontalo
NU Gorontalo memiliki jumlah pengikut mayoritas, berada pada level pedesaan secara umum, maupun di level suburban, dan urban. Namun secara struktural, NU Gorontalo belum mampu mengelola potensi besar tersebut. Ketidak karuan ini terjadi karena keterkaitan faktor eksternal dan internal organisasi. Kekuatan eksternal menghendaki NU jangan sampai menjadi subjek saja, NU harus diposisikan sebagai objek.
Dari sisi internal misalnya, NU Gorontalo di perhadapkan dengan problem yang sangat akut; seperti krisis leadership, kurang militan, dan seringkali menggunakan organisasi NU sebagai instrumen mobilitas pribadi; ini berakibat menurunnya ekspektasi pihak luar terhadap kualitas kerjasama dengan NU Gorontalo. Sehingga tak jarang NU Gorontalo “tidak diperhitungkan”.
Secara kuantitas NU Gorontalo, belum dilihat sebagai potensi kekuatan ekonomi di sektor riil maupun sektor lainya. Minimnya studi-studi NU dari kacamata ekonomi, membuktikan bahwa selama ini posisi NU Gorontalo hanya dilihat dari kacamata organisasi keagamaan saja, tapi sangat lemah berbuat. NU Gorontalo belum dilihat sebagai kekuatan ekonomi dominan. Padahal bila dilihat secara kritis maupun spekulasi saja, diluar Gorontalo, banyak daerah maju yang didorong oleh sektor ekonomi warga NU.
Djemi Radji
Tulisan ini pernah dimuat media cetak lokal Gorontalo (Gorontalo Post) edisi Januari 2016

0 Komentar