![]() |
| binthe bilihuta (twitter) |
Biar afdol dan berkesan saat di Gorontalo, Anda harus mencoba kuliner khas Gorontalo satu ini, Binde Biluhuta. Kuliner perdamaian dan melagenda. Konon, makanan berbahan dasar jagung ini tercatat sebagai makanan perdamaian para raja-raja yang bertikai zaman dulu.
Selain gurih, punya makna filosofis. Menurut sejarawan Gorontalo, binde biluhuta ada sejak zaman para raja Gorontalo dan telah di konsumsi secara umum baik para raja maupun masyarakat. Selain bahan dasarnya yang mudah ditemui di Gorontalo, binde biluhuta memiliki makna perdamaian dan persatuan.
Berkat makanan khas ini, pertengkaran panjang raja-raja di Gorontalo yang pada abad ke 15 masehi bisa disatukan lewat ritual makan binte biluhuta.
Jagung yang telah dipipil dimaknai bercerai berai diibaratkan sebagai simbol raja-raja yang memperebutkan wilayah kekuasaan dan menaklukan kerajan-kerajan kecil. Binte biluhuta merupakan simbol perdamaian dan persatuan bagi masyarakat Gorontalo. Menarik sejarah kuliner ini, bukan?
Selain lezat dan gurih, binte biluhuta merupakan makanan yang dapat mengusir kolestrol jahat karena kandungan karotenoid, bioflavonoid dan vitamin C dalam jagung bekerja sebagai pengendali kolestrol dan meningkatkan aliran darah dalam tubuh. Nah, bagaimana jika bahan dasar jagung yang dibudidayakan petani bukan jagung asli lokal yang pernah dimakan raja-raja dan masyarakat Gorontalo saat itu?
Setahu penulis, jagung asli yang dibudidayakan saat ini bukanlah jagung asli - lokal. Untuk menemukan varites asli sulit ditemukan. Sejak mengenal jagung transgenik, saat itulah petani Gorontalo beralih membudidayakan jagung yang dibuat dari hasil proses penyilangan yang bisa dijadikan bibit. Sehingga para petani atau masyarakat telah beralih pada jenis tanaman ini akan menemui ketergantungan pada bibit jagung rekayasa genetik.
Apa itu jagung transgenik? Rekayasa
genetika adalah transplantasi satu gen ke gen lainnya, baik antara gen dan
lintas gen untuk menghasilkan produk yang berguna bagi mahluk hidup. Pada
awalnya, rekayasa genetika hanya dilakukan pada tanaman untuk memecahkan
kekurangan pangan penduduk dunia, dan dalam pengembangannya rekayasa genetika
tidak hanya berlaku untuk tanaman dan hewan yang serupa, tetapi telah
berevolusi pada manusia dan lintas jenis (Mahrus 2014)
Pada prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi perubahan komposisi asam nukleat DNA atau menyelipkan gen baru ke dalam struktur DNA mahluk hidup penerima, hal ini berarti bahwa gen yang disisipkan pada mahluk hidup penerima dapat berasal dari mahluk hidup lain.
Saat ini, penyebaran dan penggunaan produk rekayasa genetika telah mengundang kontroversi masyarakat, bahwa jagung transgenik adalah jagung yang diproses pembuatannya dengan cara menyisipkan gen dari mahluk hidup atau non mahluk hidup yang hasilnya dapat diharapkan agar nantinya jagung ini bisa tahan dari penyakit, tahan hama dan obat kimia, sehingga tanaman itu menjadi tanaman super.
Namun disayangkan, varites jagung ini tidak bisa dibudidayakan kembali oleh petani. Bibit jagung hanya bisa dibeli di toko. Bahaya jagung transgenik pada peneliatan-penelitan sebelumnya, justeru menimbulkan hama penyakit baru dan kebal obat-obatan kimia, kemungkinan juga akan menimbulkan penyakit -penyakit baru bagi ternak dan manusia, bahkan menimbulkan kerusakan pada tanah. Varites jagung transgenik diantanya; BT, Terminator, RR-GA21 dan RR-NK608.
Sulit menemukan lagi jenis jagung lokal tanpa mengunakan pupuk kimia. Semua jenis jagung yang kita temui semuanya adalah jenis jagung tak bisa dibudidayakan kembali. Jenis jagung yang ditanam petani kita telah mengalami pengalihan secara massif dari bibit local asli ke bibit jagung transgenik.
Petani selalu disibukan dengan ketergantungan pupuk kimia ketika pupuk mulai langka dan di ‘permainkan’ para cukong. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata binthe bilihuta yang sering kita konsumsi tak lain adalah binthe bilihuta transgenic, bukan?
Gorontalo, 27 Juli 2017
Djemi Radji

0 Komentar