![]() |
| Rumah Hantu (Pixabay) |
Hati-hati jika Anda datang ke Gedung Sam Rat. Konon, di sana
ada makhluk halus yang menyerupai hantu tambun: tubuhnya lebar, bertanduk, dan
matanya merah menyala. Ia tak hanya muncul pada malam hari, melainkan saban
hari mengintai, mengganggu aktivitas siapa pun yang berani datang.
Yang lebih menyeramkan, ia tidak hanya mengganggu
orang-orang yang sembarangan bersikap. Bahkan manusia paling sopan dan santun
pun bisa menjadi korbannya. Tak pandang bulu.
“Robin, baiknya kita tidak datang-datang ke sini lagi,” kata
Henci, suaranya bergetar. Ia menoleh ke arah lorong panjang yang gelap di
belakang mereka, seolah takut sosok itu akan muncul lagi.
“Memangnya kenapa?” tanya Robin. Ia belum merasa ada yang
aneh. Gedung itu memang sudah tua dan sepi, tapi tidak terasa berbeda dari
biasanya.
“Tadi, sewaktu kau ke kamar mandi, aku melihat sesuatu
lewat,” ujar Henci. Ia menelan ludah, matanya menatap kosong. “Tubuhnya lebar,
perutnya besar, bertanduk… dan matanya merah.”
Robin mengernyit, setengah tak percaya. Namun saat melihat
wajah Henci yang pucat dan pelipisnya yang berkeringat, ia tahu sahabatnya ini
tidak sedang bercanda.
“Tenang dulu, ada apa ini Henci? Apa yang kau lihat
barusan?” Robin mencoba memahami.
“Ah sudahlah, Robin. Tak usah kau bertanya lagi. Pokoknya
gedung ini ada hantunya, dan sangat seram!” jawab Henci cepat, kali ini nadanya
lebih tinggi. Ia menarik lengan Robin, mengajak segera keluar dari gedung
kegiatan.
Robin menuruti langkah Henci, tapi saat sampai di halaman
depan, ia terhenti. “Tunggu dulu… tas dan HP-ku masih di dalam.”
“Jangan kembali, Robin!” seru Henci cemas. “Nanti kita cari
cara mengambil HP dan tas. Jangan balik!”
Robin menatap pintu gedung yang sudah mulai gelap. “Aku cuma
butuh dua menit. Kau tunggu di sini. Kalau aku tidak keluar dalam lima menit,
kau telepon sahabat-sahabat lain.”
“Terserah kau. Tapi aku bersumpah, Robin, jangan pernah
bilang aku tidak memperingatkanmu,” kata Henci, mundur beberapa langkah.
Robin pun masuk kembali. Langkahnya pelan. Cahaya lampu di
dalam sudah meredup. Entah kenapa, suasana terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Ia menyusuri lorong menuju ruang kegiatan. Setiap langkah
menggema. Tak ada suara lain… kecuali hembusan napasnya sendiri.
Tiba-tiba—kreeeek—sebuah pintu di ujung lorong bergerak
sendiri.
Robin terdiam.
Lalu terdengar bunyi berat… seperti langkah kaki makhluk
besar… duk… duk… duk…
Robin menoleh cepat. Matanya membelalak. Di ujung lorong,
samar-samar, ia melihat sesuatu.
Makhluk itu bertubuh tambun, tinggi, dan benar-benar
bertanduk. Matanya merah menyala seperti bara api. Udara di sekitar makhluk itu
tampak bergetar.
Robin tak bisa bersuara. Tenggorokannya tercekat. Jantungnya
berdentum kencang.
Makhluk itu mulai berjalan ke arahnya…
Lima menit. Henci melirik jam tangan. Robin belum juga
keluar.
Enam menit…
Tujuh menit…
Henci mulai panik. Ia ingin lari, tapi hatinya tak tega
meninggalkan sahabatnya di dalam.
Tak lama, langit mulai meredup. Matahari sore perlahan turun
ke ufuk barat. Cahaya jingga mulai menghilang. Lampu-lampu jalan belum menyala.
Dan… di dalam gedung, lampu tetap gelap. Seperti tak ada kehidupan. Seperti
tempat yang sudah ditinggalkan sejak lama.
Tak ada siapa-siapa di sekitar. Biasanya jalan depan gedung
Sam Ratulangi itu ramai oleh pejalan kaki, bentor, dan suara kendaraan lainnya.
Tapi sekarang? Sunyi. Bahkan suara burung pun tak terdengar.
Henci makin tak karuan. Ia merasa seperti sedang berada di
dalam mimpi buruk yang tak berujung. Atau jangan-jangan… ia memang sedang masuk
ke dunia lain?
Ketakutan sudah mencapai puncak. Kakinya lemas. Tubuhnya
terasa mati rasa. Ia berusaha menelpon sahabat-sahabat lain tak satupun
mengangkat telepon. Dan terpaksa, Henci membuat pesan singkat dan forward
berbagai nomor tujuan.
Ia ingin lari, tapi tak tahu ke mana. Ia ingin menangis,
tapi tak ada air mata yang keluar.
Tiba-tiba…
“Drrrtttt… drrrrtttt…”
Suara getar dari teleponnya membuatnya menjerit
sekeras-kerasnya!
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Ia bahkan terkencing-kencing saking kaget dan takutnya. Ia
mengira itu suara hantu yang akan menerkamnya. Tapi ternyata…
Itu hanya notifikasi pesan WhatsApp.
Henci terengah. Napasnya terputus-putus. Ia mencoba
menenangkan diri.
Celananya basah. Tapi di tengah rasa malu, ia justru merasa
lega. Ada sedikit kehidupan. Sedikit harapan.
Pesan dari salah satu sahabat masuk:
“Kami OTW, tunggu di luar ya. Jangan masuk ke dalam
sendirian apapun yang terjadi!”
Namun Henci hanya bisa menatap gedung itu. Sorotan matanya
kosong. Bibirnya gemetar.
Air matanya akhirnya turun perlahan.
Dan dari balik jendela gedung Sam Rat…
Sosok bertanduk… bermata merah… tambun…
Tersenyum kepadanya.
Celana Basah dan Gus
Dur
Robin pingsan. Tepat setelah ia mengambil tas dan HP-nya,
tiba-tiba di sisi kirinya muncul sosok tambun bertanduk dengan mata merah
menyala. Hanya sekilas menoleh, namun cukup membuat nyawanya seolah melayang.
Robin langsung jatuh tersungkur ke karpet hijau yang biasa digunakan diskusi.
Dan... ya, di situlah dia ngompol.
Saat pingsan, tubuhnya melemas total. Cairan hangat mengalir
begitu saja, membasahi celana—dan karpet.
Anehnya, suara gaduh dari dalam gedung bukanlah pertanda
perlawanan Robin terhadap hantu, bukan juga pertanda kerasukan. Bukan. Itu
hanya suara kawanan kucing yang sedang berebut makanan di atas meja dekat
peralatan dapur. Mereka berebut sisa makanan dari kantong plastik, lalu
menyenggol tumpukan piring, wajan, dan sendok-sendok.
Ketika Robin siuman, ia mendapati dirinya dalam gelap,
karpet basah, dan kucing kabur dari dapur. Spontan, dia berteriak memanggil
ibunya:
“Yiaaaaaiii! Mamaaaaa!”
Ia bangkit dengan napas memburu, langsung lari ke luar
gedung seperti dikejar arwah penasaran.
Di luar, Henci yang sedang menerima telepon dari salah satu
sahabatnya, dibuat syok ketika Robin berlari ke arahnya seperti orang
kesurupan.
“Ayo! Kita langsung pulang saja!”
ujar Henci sambil menarik tangan Robin, dan mereka berdua langsung lari
meninggalkan halaman gedung yang sudah makin gelap itu.
“Tunggu! Pelan-pelan, Hen…”
Robin mulai menyadari sesuatu ganjil di tubuhnya. Ia
memegangi bagian bawah perutnya, lalu melihat celana yang basah kuyup.
“Waduh! Kenapa celanaku basah begini?”
Robin menatap Henci dengan heran. Tapi kemudian matanya
melirik ke celana Henci yang juga terlihat basah.
“Ha-ha-hah! Henci, celana kamu juga basah. Kenapa?
Jangan-jangan...”
“Sepertinya nasib kita sama, Robin. Sama-sama ngompol,”
jawab Henci sambil tertawa canggung.
Mereka berdua terdiam sejenak. Lalu tertawa lepas. Mungkin
untuk melawan trauma. Tapi juga karena, ya... malu tapi lucu.
Henci lalu menghubungi sahabat lain yang sedang menuju
gedung sam rat untuk tidak melanjutkan karena situasi sudah aman.
Suasana jalan masih tetap sepi. Namun dari kejauhan, di
pertigaan jalan, tampak kerumunan warga.
“Robin, ayo kita ke sana. Sepertinya ada orang baru saja
kecelakaan,” ujar Henci.
“Ah! Sepertinya bukan,” jawab Robin.
“Lalu, mereka sedang apa menurutmu?”
“Sepertinya mereka sedang menonton siaran langsung, Hen.”
Henci, sebagai Ultras bola sejati, langsung menduga:
“Berarti mereka sedang menonton bola!”
“Tapi... kok ada yang menangis dan bersholawat? Masa nonton
bola sambil nangis dan sholawat?” Robin mengernyitkan dahi.
“Benar juga ya… ayo kita lihat saja!”
Mereka berdua menyelinap ke tengah kerumunan. Bau ketiak dan
keringat bercampur aroma minyak angin menyambut hidung mereka. Tapi itu semua
terlupakan saat suara tangisan dan sholawat terdengar semakin keras.
Hari itu selasa 23 Juli 2001, dimana seorang Presiden keluar
dari istana mengenakan celana pendek sambil melambaikan tangan kepada massa
militannya. Ya, itu adalah Presiden Gus
Dur (Abdurrahman Wahid).
Mereka akhirnya berhasil menerobos ke depan.
Dan di layar TV...
“Astagfirullah! Robin, bukankah itu Presiden Gus Dur!?”
“Ya Allah… iya, Hen. Itu Gus Dur!”
Layar menampilkan siaran langsung Gus Dur tengah melambaikan
tangan di depan Istana dengan tenang. Ia melambaikan tangan ke lautan massa
Nahdliyin yang tumpah ruah di depan istana. Ia memakai celana pendek, senyum
masih melekat di wajahnya, dan ketenangan spiritual terpancar dari
gerak-geriknya.
Tak ada dendam. Tak ada kekerasan. Ia rela melepaskan
jabatan presiden tanpa setetes darah pun tumpah.
Henci dan Robin terdiam.
Tertunduk. Haru.
Tak lagi ingat celana basah mereka.
Tiba-tiba Henci berbisik:
“Celana basah kita nggak penting, Rob. Lihat tuh… Gus Dur
keluar dari Istana dengan senyum.”
Robin mengangguk.
“Benar. Kalau beliau bisa ninggalin jabatan dengan kepala
tegak, kita juga bisa ninggalin gedung seram itu dengan tenang. Meskipun… ya,
karpet diskusi harus dicuci.”
Mereka pun tertawa kecil. Tak lagi malu soal ngompol.
Karena pada akhirnya, bukan celana basah yang memalukan,
tapi jika kita tak belajar dari keberanian dan keikhlasan.
Robin tetap berjanji mencuci karpet diskusi. Dan kita, semua
teman-temannya, akan mengawal janji suci itu sampai tuntas. Jangan sampai
karpet itu menyimpan bau sejarah... yang terlalu basah.

0 Komentar